Trunyan, Desa Tua yang Bersolek

Beberapa dasawarsa lalu, Trunyan adalah salah satu primadona wisata Kabupaten Bangli. Hamparan bentang alam yang memukau dilengkapi tradisi yang unik membuat Trunyan tenar sampai ke mancanegara. Bahkan banyak arkeolog seperti James Danandjaya dan Thomas A. Reuters telah mengabadikannya dalam bentuk buku.
Trunyan sempat mengalami masa-masa kelam dalam industri pariwisata. Banyak agent perjalanan memblacklist tempat ini karena perilaku masyarakat yang cenderung agresif dan membuat perjalanan wisatawan menjadi tidak nyaman.
Kini Trunyan mulai berbenah. Pada tanggal 25 Februari 2011 lalu, masyarakat Trunyan diwakili oleh lembaga adat dan dinas, kelompok pemandu wisata, kelompok pendayung dan sekaha teruna setempat dan diketahui oleh Bupati Bangli mengeluarkan pernyataan sikap, bahwa mereka akan menerima kunjungan wisatwan kembali serta menjamin kenyamanan wisatawan selama berkunjung di Trunyan.
Kepala Desa Trunyan, Ketut Sutapa menyatakan pernyataan sikap ini telah meningkatkan jumlah wisatawan yang mengunjungi Trunyan karena masyarakat sepakat mengawal pernyataan sikap ini agar wisatawan berkunjung kembali ke Trunyan dan memberikan kenyamanan kepada wisatawan.
Hal senada juga disampaikan oleh Made Suteja, petugas loket penyeberangan di dermaga Kedisan yang berfungsi sebagai tempat penyeberangan utama untuk mengunjungi Desa Trunyan dan kuburan tradisional Desa Trunyan. Menurut Suteja, sebelum ada pernyataan sikap masyarakat Trunyan rata-rata boat yang mengunjungi Trunyan antara 5-7 boat per hari, kini meningkat antara 8-10 boat per hari dan meningkat pada hari-hari libur.
Fasilitas pendukung juga mulai dibenahi. Dermaga keliahatan lebih rapi dan tertata. Tempat parkir di sekitar dermaga kini dipaving dan dihiasi taman serta disekat-sekat untuk memudahkan pengaturan kendaraan.
Dengan harga Rp. 376.810 – Rp. 433.810 untuk wisatwan domestic dan Rp. 379.310 – Rp. 451.310 untuk wisatawan asing per boat untuk kapasitas 1-7 orang penumpang, wisawatan dapat mengunjungi Desa Trunyan beserta kuburan tadisionalnya. 18 buah speed boat akan mengantarkan wisatawan dari Kedisan menuju Trunyan hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit. Total perjalanan yang diperlukan antara 1-2 jam. Transportasi ini berada langsung di bawah Dinas Perhubungan Kabupaten Bangli.
Apa yang Ditawarkan Trunyan?
Sebagian besar mungkin sudah mendengar apa istimewanya Trunyan. Atrasksi wisata utama yang ditawarkan adalah kuburan tradisional. Tidak seperti kuburan lainnya yang mengubur mayat dengan tanah atau bahkan dibuatkan kuburan dari beton. Di Trunyan mayat hanya ditaruh di permukaan tanah dan dilindungi oleh ancak saji.
Ancak saji ini dibuat dari potongan-potongan bambu kemudian dibelah. Ujungnya dibuat runcing, lalu ditancapkan di tanah mengelilingi mayat. Ujung bambu bagian atas diikat sehingga membentuk lengkungan seperti atap.
Mayat yang ditaruh di permukaan tanah hanya dibungkus kain. Ajaib, mayat ini tidak mengeluarkan bau sama sekali. Masyarakat setempat percaya, bau busuk mayat ini dinetralisir oleh pohon ‘taru menyan’ yang tumbuh perkasa di samping kuburan.
Untuk menuju ke kuburan, masyarakat Trunyan menggunakan boat atau perahu dayung. Lokasi kuburan ini sangat terpencil dan sangat sulit dijangkau lewat jalan darat. Bahkan, untuk melakukan upacara ngaben pun, masyarakat Trunyan menggotong bade atau wadah dengan bantuan perahu.
Tak kalah menarik, pemandangan alam selama perjalanan. Ketika boat membelah Danau Batur menuju Trunyan, mata pengunjung dimanjakan oleh pemandangan menghijau air danau karena pantulan Gunung Abang di sebelah selatan. Dengan tebing yang sangat curam dan sungai kering yang berwarna putih di punggung Gunung Abang terlihat seperti kain memanjang kebawah yang dijatuhkan dari puncak Gunung Abang.
Di sebelah utara Danau Batur, pemandangan Gunung Batur tak kalah cantik. Gunung yang merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia ini gagah berdiri di dalam kawah raksasa yang kini mendapat pengakuan dari UNESCO. Bahkan kawah besar yang lebih dikenal dengan nama Kaldera Batur ini, kini menjadi situs geopark dan sudah terdaftar pada katalog warisan dunia UNESCO.
Pada hari-hari tertentu, jika wisatawan beruntung bisa menyaksikan tarian tradisional Desa Trunyan yang disebut Tari Ratu Brutuk. Keunikan tarian ini adalah dari cara berpakaiannya yang hanya menggunakan kraras yaitu daun-daun pisang yang telah kering.
Di pinggiran desa Trunyan, terdapat pura yang disungsung oleh masyarakat Trunyan. Pura ini dikenal dengan nama Pura Pancering Jagat, kuurang lebih artinya pusat alam semesta. Masyarakat Trunyan percaya, bahwa pusat dari alam semesta ada di bagian dalam pura ini. Karenanya pura ini amat disakralkan oleh masyarakat setempat. Di dalam pura dapat pula dijumpai arca kuno yang oleh masyarakat di sebut Da Tonta.
Masyarakat Trunyan adalah warga Bali Mula. Mereka meyakini bahwa leluhur mereka adalah salah satu cikal bakal asli penduduk Bali. Penduduk sebagian besar beternak dan bercocok tanam. Kini di sekitar desa mulai bertebaran keramba untuk pengembangbiakan bibit nila.
Kini, pariwisata menjadi harapan masyarakat untuk menunjang kesejahteraan mereka. Dengan deklarasi pernyataan sikap itu, mereka berharap mendapat publikasi positif dari masyarakat, wisatawan, media, pemerintah dan travel agent. Citra negatif yang sempat menempel di Trunyan, kini coba dibenahi oleh warganya.