Upacara Ngusaba Dangsil bagi Warga Bungaya

Desa Adat Bungaya, salah satu desa tua di Bali, yaitu Desa Bungaya dan Desa Bungaya Kangin. Desa adat ini terdiri atas 13 banjar adat dengan jumlah penduduk ñ 15.000 jiwa dan 3.021 KK. Desa Bungaya merupakan desa tua yang pernah menjadi pemerintahan Raja Gelgel (Dalem Waturenggong), di mana pada saat pemberontakan Maruti, I Gusti Batan Jeruk telah gugur di Desa Bungaya yaitu di Jungutan/Penataran pada abad ke-16 termuat dalam Babad Dalem.
1 2 3 4
Dalam perkembangannya sampai dengan pemerintahan Raja Gelgel Dalem Dimade, telah dikukuhkan I Gusti Alit Ngurah Bungaya keturunan Pangeran Asak/Arya Kepakisan sebagai pemacek Desa Bungaya pada abad ke-18. Ini dibuktikan dengan pemberian 40 buah Biring Agung besin tumbak dan 40 keris iluk Bungaya serta sawah dan pelaba sebanyak 108 saih (tanpa pipil) untuk biaya upacara (aci) seperti Usaba Dalem, Usaba Aya, Usaba di Pura Puseh, Balai Agung, dll. Ketuaan Desa Adat Bungaya dapat dilihat dari tatanan kehidupan adat-istiadatnya sangat melekat sampai sekarang, di antaranya dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu, adanya peninggalan sejarah berupa instumen Selonding atau dapat disebut palinggih Ida Batara Bagus Selonding dan hal ini mengingatkan kembali pada zaman kerajaan Raja Bali lebih kurang abad ke-10 yaitu pada pemerintahan Sri Wira Dalem Kesari dengan Pemerajan Selondingnya di Besakih.

Struktur penataan kepengurusan desa adat, masih tetap seperti desa-desa tua lainnya seperti Desa Penulisan dan lain-lain, dengan memakai istilah De Kebayan, De Salah, De Mantem, dll. Prosedur pengangkatan kepengurusan Desa Adat Bungaya dimulai dari istilah nerag sinoman teben. Di mana dalam nerag sinoman menggunakan ucapan: Cai Tamyu Teka Uli Majapahit Turun Ke Bali Pakitut Desa, Yan Ada Uduh-uduhan Desa Da Cai Tulak dan satu di antaranya kesinoman menjadi goak.

Setelah jadi goak menjadi tunda yaitu Tunda Nyoman, Tunda Wayan dan ini berwenang nguduh (menyuruh) kesinoman teben. Setelah jadi tunda diangkat menjadi tegak sahat yakni bertugas melakukan pengalangan (ngerampag) untuk kebutuhan usaba. Setelah tegak Sabat menjadi tegak Adasa dan satu di antaranya diambil menjadi goak dulu dan diangkat menjadi Baan. Jabatan baan ini berwenang nguduh. Setelah Baan dilakukan Pesaluk lalu menjadi Kebayan Nyoman dan setelah Kebayan Nyoman Pesaluk lagi lalu menjadi Kebayan Wayan. De Kebayan Wayan menempati tempat khusus (duduk-red) di Balai Agung.
Jika De Kebayan Wayan yang duduknya ngarep/ngarepin Usaba Kaja atau ke tempat Pura Puseh menjadi De Salah dan De Kabayan Wayan yang duduknya ngarep/ngarepin Usaba Kelod (ke teben) atau ke Pura Dalem menjadi De Manten dengan perbedaan pakaian dan tugas. Kalau jabatan salah memakai pakaian (saput) yang disebut Uyah Areng dan bertugas menjadi Mangku Puseh atau menyelesaikan upacara yang ke hulu. Sedangkan jabatan Manten memakai pakaian atau saput yang disebut Cacah Nangka dan bertugas menjadi Sedahan Dalem (memimpin upacara di Pura Dalem), Pura Maspahit dan berwenang menyelesaikan upacara ke teben.Desa Bungaya mempunyai hubungan historis dengan desa-desa lainnya. Desa Sibetan yang diperkuat dengan Purana Usaba Bangkak. Pura Bukit Kangin penyungsungan Raja Karangasem. Desa Asak, Timbrah, Bugbug, Tenganan dan Tenganan Dauh Tukad, Kastala, Bebandem, Kayu Putih, Tihingan, Macang, Gumung, Ungseri dan Desa Batudawa Kecamatan Kubu pada saat Usaba Aya yang ikut mengusung atau mengangkat Dangsil ke Pura Penataran.

Konsepsi upacara Madeha dan Materuna yang dapat dilaksanakan pada saat Usaba Aya, berarti usaba tersebut merupakan salah satu wahana pencetakan awal dari pada struktur kepengurusan desa adat mulai dari Madeha dan Materuna. Tatanan berbusana terhadap desa pakraman sesuai dengan ketentuan (sukerta) desa adat setempat. Desa Adat Bungaya dikategorikan desa tua, hal ini dapat dilihat dari kewajiban desa untuk melaksanakan beberapa jenis usaba yang tidak ada dimiliki oleh desa-desa tua lainnya. Masing-masing pelaksanaan usaba memiliki makna tersendiri untuk menuju kesejahteraan dunia dan masyarakat. Jenis-jenisnya usaba yang dilaksanakan selama satu tahun antara lain Sasih Kasa/Srawana, melaksanakan pengaci-aci terhadap pelaba pura di Uman Desa.

Sasih Karo/Badrawada, melaksanakan Usaba Aya/Usaba Gede/Usaba Dangsil. Kata aya sama dengan gede atau besar dengan sarana memakai Dangsil. Usaba ini tidak dapat dilaksanakan secara rutin karena memerlukan biaya yang cukup besar. Selain Usaba Aya juga dilaksanakan Usaba Seri secara bergantian. Sasih Ketiga/Asuji, melaksanakan aci-aci di Beji Saga, Pura Ulun Suwi dan melaksanakan Usaba Emping/€eri (Purana Desa Bungaya).

Sasih Kapat/Kartika, melaksanakan pengaci-aci di Pura Besakih selama satu hari dan upacara Pesaluk Desa untuk kedudukan jabatan struktur desa. Sasih Kelima/Margasirsa, Ida Batara Kabeh katuwur ke Pura Bukit Kangin penyungsungan Raja Karangasem selama satu hari. Sasih Kanem/Posya, melaksanakan pengaci-aci di Pura Kelebutan Puseh (Purah Kaliyangan) selama satu hari.

Sasih Kepitu/Magha melaksanakan pengaci-aci atau Usaba Muhun-muhun (Purana Desa Bungaya) di Pura Pamuhunan selama satu hari. Yang diawali dengan Ngaga di tiap pawongan pekarangan. Sasih Kawulu/Palguna melaksanakan upacara-upacara ngetipat Kawulu (ngesanga adat), kegiatan Usaba Dalem pada sasih Kesanga.

Sasih Kesanga/Cetra melaksanakan pengaci-aci di Pura Dalem/Usaba Dalem. Sasih Kedasa/Wesaka dan sasih Jyesta/ Ukrama tidak ada kegiatan desa adat, dan ini diberikan kesempatan kepada krama masyarakat untuk melaksanakan upacara-upacara, manusa yadnya, pitra yadnya dll. karena pada saat-saat kegiatan desa adat di atas, krama masyarakat tidak berani melangsungkan kegiatan upacara pitra yadnya, buta yadnya dan manusa yadnya. Sasih Sadha/Andha, melaksanakan pengaci-aci Usaba Widya/Usaba Sumbu di Pura Pasuwikan, Pura Ulun Suwi, Pura Puseh dan Pura Balai Agung.

Usaba Aya merupakan salah satu jenis aci yang dilaksanakan di Desa Adat Bungaya dengan corak dan karakteristik tersendiri yang tiadataranya bila dibandingkan dengan desa-desa lain. Bahkan, sangat sulit dicari (satu-satunya). Usaba Aya ini lebih populer disebut Usaba Dangsil karena dalam pelaksanaannya menggunakan sarana upakara yang berupa dangsil.

Upacara ini sering disebut Usaba Gede oleh masyarakat Bungaya. Hal itu dapat diterima secara rasional di mana kata aya berarti besar. Dengan digunakannya sarana upakara dangsil inilah merupakan kekhasan dari Usaba Aya. Kekhasan inilah sebagai generasi/penerus pembangunan bangsa sudah sewajarnya harus melestarikan. Jangan sampai punah begitu saja.

Tulisan dan foto-foto oleh: Kapur Bagoes dalam album:  Ngusaba Dangsil Desa Adat Bungaya 2016
Komentar dengan Facebook di Sini

Leave a Reply