Ajaib, Di Desa Ini Mayat & Tengkorak Berserakan Tak Berbau!

Ngeri tapi ajaib! Itu yang pertama terlintas di kepala saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kuburan Desa Trunyan. Ngeri karena di depan mata tulang-tulang dan tengkorak berserakan di tanah memenuhi hampir seluruh areal pemakaman desa Bali kuno ini. Ajaibnya, kamu tidak akan mencium bau busuk layaknya bau mayat yang membusuk. Meskipun ada mayat yang tak terkubur dan baru meninggal beberapa hari (yang biasanya mengeluarkan bau menyengat dan menjijikan), di tempat ini sama sekali tak tercium bau itu. Ajaib memang!

trunyan121245

Inilah atraksi menarik yang ditawarkan Desa Trunyan. Wisatawan diajak berkeliling di areal pemakaman, menyaksikan  mayat yang membusuk di bawah pohon taru menyan tanpa dikubur. Mayat-mayat ini berjejer ditutupi anyaman bambu mengeruut yang disebut ancak saji. Di dalam ancak saji ini, kamu bisa menyaksikan langsung mayat-mayat yang membusuk dan mengering tanpa mengeluarkan bau sedikit pun. Konon, pohon taru menyan itu yang menyerap bau busuk yang keluar dari mayat-mayat itu.

trunyan

trunyan-copy

Menurut cerita masyarakat (ini sebenarnya semacam dongeng- bisa di cari di internet dengan keyword: Hikayat Desa Trunyan), dahulu kala raja yang berkuasa di desa ini bersabda agar masyarakat sengaja tidak mengubur mayat untuk menetralisir bau harum semerbak yang keluar dari pohon taru menyan. Cukup dengan menaruh mayat di bawah pohon berbau harum itu. Sang raja takut bila pohon tau menyan yang konon mengeluarkan bau harum sampai ke luar pulau itu bisa mengundang musuh yang akan menyerang desa itu. Nah, semenjak itulah kebiasaan menaruh mayat di bawah pohon taru menyan itu berkembang sampai saat ini.

whatsapp-image-2016-12-08-at-21-46-37 whatsapp-image-2016-12-08-at-21-46-27

Dalam sejarah kepariwisataan Bali, Trunyan sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 70-an. Sempat booming di tahun 80-an sampai tahun 90-an. Masyarakat Trunyan yang belum sepenuhnya siap menerima ledakan turis yang berkinjung ke tempat ini sempat membuat pengunjung tidak nyaman yang menyebabkan turunnya kunjungan turis ke tempat ini sejak tahun 90-an. Kini Pemerintah Kabupaten Bangli mulai melakukan pembenahan dan pelatihan sadar wisata bagi masyarakat sekitar. Kini, Trunyan sudah lebih teratur dan layak dijadikan alternatif tujuan berlibur di Bali.

trunyan-copy-3 whatsapp-image-2016-12-08-at-21-46-23 trunyan-copy-2

Tempat wisata ini bisa dicapai dengan menggunakan perahu cepat (speed boat) dari Dermaga Kedisan dengan tarif mulai Rp. 500.000/boat dengan kapasitas 2-8 orang. Perjalanan lewat danau ini bisa ditempuh dengan waktu kurang dari setengah jam. Dalam perjalanan kamu akan disuguhi pemandangan kaldera Batur dengan danaunya yang biru dikelilingi pegunungan hijau. Lembah-lembah di sekeliling danau dihuni oleh masyarakat sekaligus menjadi lahan pertanian subur akibat letusan dari Gunung Batur ratusan tahun lalu.

Dari Denpasar perjalanan menuju Trunyan ditempuh dalam 2-2,5 jam dengan kendaraan roda empat atau sepeda motor. Sesampainya di obyek wisata Penelokan, arahkan kendaraan kamu turun menuju ke danau sampai di Desa Kedisan lalu belok kanan. Sekitar 500 meter lagi kamu akan menemukan sebuah dermaga kecil tempat menyewa perahu yang akan membawa kamu ke Trunyan.

Komentar dengan Facebook di Sini

Leave a Reply